SELAMAT DATANG DI BLOGGER INI, SELAMAT MEMBACA DAN BERIKAN TANGGAPANNYA

BATAL ATAU LANJUTKAN

Rabu, 05 Agustus 2009

HIKHAYAT TENGGELAMNYA KERAJAAN MALINGGAHENG

SAMENSI ARANG DAN BULAENG TANDING
Menurut cerita rakyat Sangihe Talaud bahwa bumi Tampunganglawo yang kini disebut pulau Sangihe Besar, ratusan abad yang lalu, daratannya bersambung dengan pulau-pulau kecil mulai dari p. Lipaeng, p. Kawaluso, p. Matutuang, p. Memanu, p. Komboleng, p. Kawio, p. Marore, dan ujung paling Utara Barat Laut, P. Kaluwulang, p. Marulung (p. Balut)p. Sahenganeng (p. Saranggany).

Dahulu ketika kerajaan Malinggaheng, berpusat di Makiwulaeng (Kendahe/Talawide) kerajaan ini di perintah oleh raja Samensi Arang menikah dengan putrinya bernama Bulaeng Tanding alhasil kerajaan ini sebagian daratan pulau Sangir tenggelam oleh Dimpuluse (yaitu awan hitam tebal berkumpul jadi satu, lalu jatuh dalam bentuk air yang berat) sehingga daratan menjadi laut, termasuk pulau Kaluwulang diperkirakan tahun 1654 Masehi tenggelam. Sisa-sisa peninggalan kerajaan ini adalah Tajung Maselihe dimana terdapat kursi emas dan makota raja yang terkubur di dasar laut, konon dijaga oleh ikan hiu (Tanggihiang). Pulau sangihe dulu bersambung dengan pulau pulau yang lainya kini dataran tersebut terputus menjadi beberapa pulau kecil. Lokasi tersebut diantara pulau sangihe dan pulau p. marulung (balut)dimana terdapat tandusan napong elise, ada sebuah karang yang menonjol menyerupai pasangan manusia yang sedang bercumbu. 

Cerita rakyat ini sama dengan analisa seorang ahli gunung api, Ir. Hadikoesoemo yang pada tahun 1949 memeriksa keadaan gunung Awu Tahuna-Kolongan. Beliau sementara mendaki ke gunung, lalu menunjuk ke arah Utara dan berkata, bahwa pulau-pulau yang berjejer kebawah itu (maksudnya p. Lipaeng dan seterusnya) zaman dulu kala adalah puncak-puncak gunung tinggi, yang daratannya bersambungan dengan pulau Sangir Besar ini. Ditambahkannya, bahwa bagian yang terbesar daratan, sudah tenggelam ke dasar laut, akibat dari letusan gunung api dahsyat yang terjadi beberapa kali.
Setelah daratan Tampunganglawo bagian Utara Barat Laut tenggelam, di bagian sebelah Timur dari daratan yang tenggelam itu, dari dalam lautan muncul sebuah daratan baru yang disebut Porodisa.

Secara ilmiah, proses ini dapat dibenarkan menurut teori seorang Ahli Tubuh Bumi, Bpk. Wisaksono Wirjodihardjo, di dalam bukunya yang berjudul Tubuh Bumi Indonesia, dia mengumpamakan bahwa bumi ini merupakan tanah gambut dan bila diinjak di tengah-tengahnya, maka bagian yang kena kaki, permukaan tanah itu akan turun, sedang tanah di bagian luar dari kaki itupun meninggi, namun volume tanah tidak akan berkurang.
Jadi, jika menurut teori ini, maka besarnya daratan Tampunganglawo yang tenggelam itu, sama besarnya/luasnya dengan daratan Porodisa atau pulau Karakelang Talaud.

Menurut Djoko Tribawono,kepulauan Indonesia dengan untaian pulau-pulau di garis katulistiwa, terhampar di atas laut, merupakan faktor fisik paling dominan membentuk tanah tumpah darah Indonesia. Zaman dahulu sebagian penduduk asli beranggapan seluruh laut hanya satu sebagai “telaga luas” yaitu dimana mereka hidup. Oleh sebab itu diartikan “Tagaroa” bahwa “taga” berarti telaga dan “roa” artinya luas; sekarang masih digunakan oleh rakyat Sangir Talaud (Anugerah Nontji, 2007). Istilah tagaroa “wilayah laut maha luas” mencakup Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, dikenal dan digunakan setelah kedatangan pelaut Eropa abad ke 15 dan 16. Tagaroa, selain digunakan untuk nama laut maha luas digunakan pula untuk nama dewa laut yang menguasai seluruh laut disebut ”Dewa Tagaroa”. Pengertian dan kebiasaan ini sama dengan pandangan orang Yunani kala itu, dan hingga kini ditiru bangsa-bangsa barat yang menggunakan nama dewa laut ”Okeanos” menjadi nama sebutan samudera luas ”Ocean”.

Mitos dan Sejarah
Kepulauan Talaud merupakan sekumpulan pulau-pulau di Lautan Pasifik yang termasuk di dalamnya Kepulauan Mindanau, Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Palau. Jika mengikuti mitos yang beredar mengapa hingga terdapat banyak pulau di wilayah Pasifik tersebut maka berdasarkan tutur cerita rakyat Sangihe-Talaud mengatakan bahwa ada keturunan Raja Langit/Gumansalangi yang turun dari kayangan serta ingin mempersunting gadis desa di wilayah tersebut. Karena di tumitnya penuh kekuatan bara api maka ketika ia menginjakkan kakinya ke bumi, terpencarlah daratan hingga membagi pulau-pulau tersebut yang semula adalah satu.

Secara spesifik teoritik-ilmiah, Program Wallacea pernah mengadakan penyelidikan tentang Tarsius Spectrum (monyet/primata terkecil) dan jenis binatang yang hampir sama terdapat di daratan Filiphina hingga Vietnam dengan jenis yang terdapat di Indonesia Bagian Timur(Sangihe,Bitung=Tangkoko). Penguatan tersebarnya pulau-pulau atau kepulauan ini, diduga bahwa pernah terjadi angin topan dari laut yang sangat dahsyat sehingga menubruk dan memisahkan pulau-pulau tersebut.

Hal ini juga bisa disebabkan oleh letusan gunung berapi atau patahan Sirkum Pasifik dengan dibuktikan adanya terusan lempengan Sulawesi dan rangkaian gunung api aktif yang terdapat di Jepang hingga Sulawesi Utara. Bukti lain berdasarkan “Penemuan Kembali Tagaroa” oleh Mayor John Rahasia bahwa telah terjadi migrasi bangsa-bangsa yang terhimpun dari berbagai suku bangsa sehingga membentuk masyarakat hingga saat ini. Adapun Tagaroa diyakini sebagai Tuhan Segala Yang Kuasa yang melindungi penduduk pribumi di kawasan Asia-Pasifik dari Jepang hingga Australia dan Polynesia hingga Hawai dan Pulau Paskah.

Bukti tentang adanya kekuasaan historis-tradisional dengan diyakini bahwa Dewa Tagaroa adalah penguasa samudera dan pulau-pulau di Asia-Pasifik. Dalam tradisi dan keturunan suku bangsa Maori, Selandia Baru, suku bangsa di Papua New Guinea serta Sangihe-Talaud, menganggap bahwa Tagaroa adalah Dewa atau Tuhan Asal Segala Sesuatu.

Menurut Sastra lisan Sangihe Talaud berupa Sasambo,adalah sebagaiberikut :
Mengalung pingkae su alungu binawa.Metirolong langi Suwowong Tagialu.
Mendedapo tunkue Mendedating tadetene Hamu u bialelang Menggegala dempuge Lohang ngu kalu kaluwulaeng.Nepisi lapise nipikiung ngu lumu. Daukalung hawu nawae naleka
Nalekabe nawo benuse uhu,ensa u lowoe.Namuhe enede hamu ne nahang batu.Ondole ...
Nawongkasang daukalung pialelang,lekabe pisi lendeng pegasu tungkue.
Lendeng ...Pegasu hiwang lawesang,enede ...hiudu sege nenawuhe bengi nenahang sega.
Salumisi bembulaeng megegulingging meneneh matehing pehadeng.
Lunsihe su bongkone metetumbati ...meleluhude bembulune,nntagu tumbalohe kalimbotong sumahe ingge, taku kireng Tana lawo mededea Balawo.
Berang salamangka maka tamba pahengking,lumente bentihe menenawede ...hiwang lawesang. Tamalaweng kakokotang,mangimpopo su kalahego.memuka saluhe mumue tagialu meneking, mendasage, menubung pemuka tundung liang ngi bahiking,menondong lawese mendae eng lamene buheti u eli nasahiambeng pendangsesahiambengangu temang i sipiru naung.Tumompe u'raling saghipong dasage sesengehangngu luhude kumanoa engsania, sesaniakengu kanoa.Kahadu batang gantare u'wanua kisong daukalu,bali u'binangaeng Mendolong timbowo,kukahioro u'tempo.
Tumumpa ... Ta manawong pengengiralungang,mengumbele binangaeng medisi su Winalangeng ne dumpaeng kila. Lumintu pantuhu,Lumempang deluse somahe kehaghe.
Kimomohe ...Penahulending uwuse.Namuhu timuhe nelamude nusa napetangu sasi
Nesuleng puaga.Daleng limente nenentang liewehe nitiu u anging, namara reka
nimahulendingang. Nienede ...Suhiwang nitapi kapia,Taghaloang sebung sasi, nelamude apeng. Nesuleng huso, simue suhimang,pundalu sengiungtaka hinsangeng, petong sengkatau su bangka u' senggesa. Hiabe ...liewehu lano uwusu singgata,Singgatang kendagu DUATA.
Banua kalonge matualageng sumenang-simarang nikahumperongang
suhiwang Gengghona, timbowo u nikalenabeng Mawu. nitaking Masusi.

Konsep paling mutakhir yang dianut oleh para ilmuwan sekarang yaitu Teori Tektonik Lempeng. Teori ini lahir pada tahun 1960+. Tektonik Lempeng ini dipicu oleh adanya Pemekaran Tengah Samudera (Sea Floor Spreading) dan bermula di Pematang Tengah Samudera (Mid Oceanic Ridge : MOR) yang diajukan oleh Hess (1962).
Pada awalnya ada dua benua besar di bumi ini yaitu Laurasia dan Gondwana kemudian kedua benua ini bersatu sehingga hanya ada satu benua besar (supercontinent) yang disebut Pangaea dan satu samudera luas atau yang disebut Panthalassa (270 jt th yll). Dari supercontinent ini kemudian terpecah lagi menjadi Gondwana dan Laurasia (150 jt th yll) dan akhirnya terbagi-bagi menjadi lima benua seperti yang dikenal dan ditempati oleh manusia sekarang.

Terpecah-pecahnya benua ini menghasilkan dua sabuk gunung api yaitu Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediteranean yang keduanya melewati Indonesia. Mekanisme penyebab terpecahnya benua ini bisa diterangkan oleh Teori Tektonik Lempeng sebagai berikut :
1. Penyebab dari pergerakan benua-benua dimulai oleh adanya arus konveksi (convection current) dari mantle (lapisan di bawah kulit bumi yang berupa lelehan) . Arah arus ini tidak teratur, bisa dibayangkan seperti pergerakan udara/awan atau pergerakan dari air yang direbus. Terjadinya arus konveksi terutama disebabkan oleh aktivitas radioaktif yang menimbulkan panas.

2. Dalam kondisi tertentu dua arah arus yang saling bertemu bisa menghasilkan arus interferensi yang arahnya ke atas. Arus interferensi ini akan menembus kulit bumi yang berada di atasnya. Magma yang menembus ke atas karena adanya arus konveksi ini akan membentuk gugusan pegunungan yang sangat panjang dan bercabang-cabang di bawah permukaan laut yang dapat diikuti sepanjang samudera-samudera yang saling berhubungan di muka bumi. Lajur pegunungan yang berbentuk linear ini disebut dengan MOR (Mid Oceanic Ridge atau Pematang Tengah Samudera) dan merupakan tempat keluarnya material dari mantle ke dasar samudera. MOR mempunyai ketinggian melebihi 3000 m dari dasar laut dan lebarnya lebih dari 2000 km, atau melebihi ukuran Pegunungan Alpen dan Himalaya yang letaknya di daerah benua. MOR Atlantik (misalnya) membentang dengan arah utara-selatan dari lautan Arktik melalui poros tengah samudera Atlantik ke sebelah barat Benua Afrika dan melingkari benua itu di selatannya menerus ke arah timur ke Samudera Hindia lalu di selatan Benua Australia dan sampai di Samudera Pasifik. Jadi keberadaan MOR mengelilingi seluruh dunia.

3. Kerak (kulit) samudera yang baru, terbentuk di pematang-pematang ini karena aliran material dari mantle. Batuan dasar samudera yang baru terbentuk itu lalu menyebar ke arah kedua sisi dari MOR karena desakan dari magma mantle yang terus-menerus dan juga ‘hanyut’ oleh arus mantle. Lambat laun kerak samudera yang terbentuk di pematang itu akan bergerak terus menjauh dari daerah poros pematang dan ‘mengarungi’ samudera. Gejala ini disebut dengan Pemekaran Lantai Samudera (Sea Floor Spreading)

4. Keberadaan busur kepulauan dan juga busur gunung api serta palung Samudera yang memanjang di tepi-tepi benua merupakan fenomena yang dapat dijelaskan oleh Teori Tektonik Lempeng yaitu dengan adanya proses penunjaman (subduksi). Oleh karena peristiwa Sea Floor Spreading maka kerak samudera akan bertemu dengan kerak benua sehingga kerak samudera yang mempunyai densitas lebih besar akan menunjam ke arah bawah kerak benua. Dengan adanya zona penunjaman ini maka akan terbentuk palung pada sepanjang tepi paparan, dan juga akan terbentuk kepulauan sepanjang paparan benua oleh karena proses pengangkatan. Kerak samudera yang menunjam ke bawah ini akan kembali ke mantle dan sebagian mengalami mixing dengan kerak samudera membentuk larutan silikat pijar atau magma. (Proses mixing terjadi pada kerak benua sampai 30 km di bawah permukaan bumi). Karena sea floor spreading terus berlangsung maka jumlah magma hasil mixing yang terbentuk akan semakin besar sehingga akan menerobos batuan-batuan di atasnya sampai akhirnya muncul ke permukaan bumi membentuk deretan gunung api.

Kondisi Geologi Dinamis Indonesia
Kepulauan Indonesia terbentuk karena proses pengangkatan sebagai akibat dari penunjaman (subduksi). Lempeng (kerak) yang saling berinteraksi adalah Kerak Samudera Pasifik dan Hindia yang bergerak sekitar 2-5 cm per tahun terhadap Kerak Benua Eurasia dan Filipina. Jadi Indonesia merupakan tempat pertemuan 4 lempeng besar sehingga Indonesia merupakan daerah yang memiliki aktivitas kegempaan yang tertinggi di dunia. Terdapat dua sabuk gunung api yang melewati Indonesia yaitu Sirkum Mediteranean sebagai akibat penunjaman Kerak Samudera Hindia ke dalam Kerak Benua Eurasia, dan Sirkum Pasifik sebagai akibat penunjaman Kerak Samudera Pasifik ke dalam Kerak Benua Eurasia/Filipina.

Atlantis nama daratan itu. Sebuah nama dari benua legendaris yang pertama disebut oleh Plato (360 tahun sebelum masehi) dalam dialog Timaeus and Critias. Hingga saat inipun banyak yang menyangsikan bahwa cerita tersebut berdasarkan fakta. Tapi menurut Plato, Atlantis pernah ada. Ia menyebutkan bahwa Benua tersebut berada di bawah pillar Heracles yang tenggelam 11.500 tahun yang lalu oleh bencana alam dan kekacauan besar. Plato sendiri dipercayai oleh beberapa ahli, mendapatkan kisah ini dari penduduk Mesir, yang menyebutnya Keftiu. Beberapa sarjana bahkan beranggapan, Plato terinspirasi oleh kejadian-kejadian masa lalu seperti, Ledakan Guung Thera, Perang Troya, Kehancuran Helike (373 Sebelum Masehi), Perang Bharatayudha, hingga kegagalan invasi Athena ke pulau Sisilia yang diramu menjadi satu cerita, sehingga banyak orang beranggapan Benua Atlantis hanya dongeng semata.

Atlantis yang artinya Tanahnya Atlas - Negeri 2 Pilar/Tiang yang bisa diartikan sebagai negeri dengan pegunungan-pegunungan. Atlantis dikenal mempunyai tanah yang sangat subur, makmur dan berteknologi tinggi, dengan kota atau pulau berbentuk lingkaran/cincin yang tersusun antara daratan dan perairan secara berurutan. Susunan tersebut dikabarkan berdasarkan perhitungan matematika yang tepat dan efisien sehingga tertata dengan rapi dengan sebuah istana megah tepat di pusat kota sebagai pusat pemerintahan.

Walupun sebagian orang menganggap Benua Atlantis hanya dongeng belaka, tak kurang ribuan buku dan puluhan film membahas atau menyinggung tentang keberadaan Atlantis.
Bagi para arkeolog atau oceanografer modern, Atlantis tetap merupakan obyek menarik untuk dipelajari terutama menyangkut teka-teki dimana sebetulnya lokasi Benua itu berada. Berbagai ilmuwan dan juga paranormal serta wartawan hingga kini masih mencari lokasinya.

Peneliti dan Penulis, James Churchward, menemukan tulisan sakral tibet yang menunjukkan ‘dua benua tak dikenal’ yang ia duga salah satunya adalah Atlantis. Begitu juga sebuah Petroglyph di Yucatan Meksiko yang ditemukan oleh William Niven yang menggambarkan konfigurasi tak dikenal sebuah daratan di sekitar Atlantik dan Pasifik.

Lokasi Atlantis berdasarkan buku Atlantis :The Antediluvian World, Ignatius L. Donnelly, 1882
Pendapat yang umum dikemukakan tentang keberadaan Atlantis adalah hilang di Laut Atlantik. Diperkirakan di tengah-tengah laut luas tersebut, dahulu kala terdapat pulau dengan kebudayaan maju yang tenggelam akibat mencairnya zaman es atau bencana alam lainnya. Ada yang memperkirakan Benua tersebut berada di sekitar Portugal dan bahkan sampai ke seberang Atlantik di perairan Karibia.

Atlantis di Irlandia?
Dr. Ulf Erlingsson, seorang ahli geografi yang mendalami geografi fisik pada Universitas Uppsala di Swedia, menyatakan Irlandia adalah Pulau Atlantis yang dimaksud oleh Plato. Spesialisasi Dr. Ulf Erlingsson adalah geomorfologi, geologi bahari (marine geology) dan glaciologi (ilmu pengetahuan mengenai kepulauan es). Erlingsson pakar dalam pemetaan bawah laut dan telah menciptakan peralatan untuk tujuan ini.

Menurutnya, ukuran, geografi dan bentang alam Atlantis sama persis dengan Irlandia. Paling utama dalam teorinya ini adalah ukuran panjang dan lebar pulaunya sama, serta terdapat daratan di tengah pulau yang dikelilingi gunung-gunung. Menurutnya, cerita Plato memiliki 99,98 persen data geografis Irlandia. Dan bencana yang dimaksud Plato adalah tenggelamnya Dogger Bank akibat pasang yang luar biasa pada 6.100 tahun SM.

Bukan hanya mengkaji secara geografi fisik, Ulf Erlingsson juga mencantumkan situs megalitik di Irlandia yang setara dengan monumen megalitik lainnya di Eropa dan Afrika Utara yang masuk dalam batas wilayah Atlantis menurut Plato. Kajian Erlingsson ini diterbitkan bulan September 2003 oleh Lindrom Publishing dengan judul ”Atlantis from a Geographer’s Perspective: Mapping the FairyLand.”
Atlantis = Indonesia?

Dugaan terkini tentang keberadaan Atlantis adalah daratan yang berada di Indonesia. Sebagian arkeolog dan ilmuwan Amerika Serikat bahkan meyakini benua Atlantis dulunya adalah sebuah pulau besar bernama Sunda Land atau Summa Terra Land, Wilayah yang kini ditempati Sumatera, Jawa dan Kalimantan yang sekitar 11.600 tahun silam daratan-daratan ini masih merupakan kontinen yang sangat besar. Benua ini perlahan-lahan tenggelam dan terpisah seiring dengan berakhirnya zaman es. Teori ini diangkat ke permukaan dalam ‘International Symposium on The Dispersal of Austronesian and The Ethnogeneses of The People in Indonesian Archipelago’ yang dihelat 28-30 Juni 2005, di Solo. Hipotesa itu berdasarkan pada kajian ilmiah seiring makin mutakhirnya pengetahuan tentang arkeologimolekuler. Disebutkan lagi, Pulau Natuna dan Penduduknya merupakan sisa-sisa terpenting yang berkaitan dengan Atlantis. Berdasarkan kajian Biomolekuler, Penduduk Asli Natuna memiliki gen yang mirip dengan bangsa Austronesia tertua yang diyakini bangsa ini memiliki kebudayaan tinggi seperti yang dinisbatkan Plato dalam mitologi yang ia kemukakan.

Dalam teori yang lain yang mendukung Atlantis berada di Indonesia mengemukakan, Penduduk Atlantis terbagi dua, keturunan minoritas bangsa lemuria yang berkulit putih, tinggi, bermata biru dan berambut pirang yang merupakan nenek moyang suku bangsa Arya dan dipercaya memiliki garis keturunan Bangsa Pleides, sedangkan penduduk yang lain berkulit coklat/gelap, relatif pendek, bermata coklat dan berambut hitam memiliki garis keturunan Bangsa Mu/Lemuria/Pasifika. Pada waktu itu, Bangsa luar angkasa (Bangsa Pleides) sudah berhubungan baik dengan penduduk Bumi. Mereka umumnya dianggap sebagai Dewa karena kemampuannya jauh di atas penduduk Atlantis.

Hal ini dihubung-hubungkan dengan Hastinapura (Bahasa Sansekerta untuk Atlantis) tepatnya disekitar wilayah Suma Terra (Sumatra) atau disebut juga Swarnabhumi atau Land of Taprobane, ditengah-tengah 2 pillar penyangga : Gunung Krakatoa dan Gunung Toba, dua gunung yang super besar. Atlantis hancur karena konflik internal para penguasa yang luluh lantak karena peperangan super modern dengan menggunakan teknologi tinggi (nuklir) berikut senjata-senjata pemberian bangsa Pleides. Senjata tersebut memiliki daya hancur masal yang dimiliki oleh para pemimpin-pemimpin Atlantis, yang pada akhirnya memicu ketidakstabilan pada alam.

Peperangan itu terbagi menjadi 2 kubu besar, seperti yang diceritakan dalam mitologi, Pandawa dan Kurawa. Kendaraan tempur dan pesawat-pesawat tempur di asumsikan sebagai Kereta Kencana, sedangkan Panah-panah sakti adalah asumsi dari Rudal balistik atau laser beam. Dan baju zirah yang dikenakan gatot kaca adalah Baju tempur yang bisa terbang. Diceritakan pula, seorang tokoh (baladewa) tidak boleh ikut berperang karena memiliki senjata pemusnah masal yang mampu membelah bumi.

Peristiwa besar itu, yang dimenangi oleh Pandawa, tetap saja mengakibatkan alam menjadi tidak seimbang yang pada akhirnya terjadi letusan besar dari 2 gunung super volcano (2 pillar) yang mengapit mereka, yang memusnahkan Penduduk Atlantis secara global, yaitu Gunung Krakatoa dan Gunung Toba. Danau Toba, danau terluas di atas ketinggian seribu meter dari permukaan air, adalah kaldera raksasa yang di asumsikan sebagai sisa-sisa dari Gunung raksasa tersebut. Ledakan itu menyebabkan gelombang Tsunami yang dahsyat sehingga menghapus semua kebudayaan yang pernah berdiri di Summa Terra. Tersapu dan di hempaskan ke seluruh bagian dunia hingga terhisap ke dasar Lautan Atlantik.

Sebagian kecil penduduk yang selamat sebagian besar lari ke arah barat (melalui India, Alengka (Srilangka)) dan menjadi Ras Arya. Sebagian kecil ke arah timur dan menjadi Bangsa Oceania dan Indian. Sayangnya bagian kecil penduduk yang selamat adalah penduduk-penduduk yang ada di lingkar luar yang jauh dari pusat Atlantis. Sehingga kesinambungan teknologi tiba-tiba berhenti dan kembali ke masa Pra-Sejarah. Mereka hanya mewariskan kisah-kisah ini ke keturunan mereka yang kemudian di adaptasikan dengan perkembangan kebudayaan setempat. Kisah-kisah ini yang kemudian mengilhami pemahaman kepercayaan yang dianut oleh penduduk bumi sebagai tuntunan dan pedoman hidup agar tidak terjadi lagi kehancuran yang berakibat musnahnya peradaban manusia untuk kesekian kali.

Sejak saat itu, Bangsa Pleides (Mahluk Luar Angkasa) memutuskan untuk tidak ikut campur dalam perkembangan manusia saat ini, karena kemunculannya disetiap kebudayaan sebagai campur tangan mereka terhadap proses pendewasaan manusia bumi yang diikuti dengan alih teknologi malah mengakibatkan kehancuran. Di anggap manusia bumi belum siap menerima teknologi yang mereka sampaikan dengan menyalahgunakannya. Campur tangan tersebut juga tenyata berdampak pada pemujaan berlebihan dan menganggap mereka sebagai Dewa yang pada akhirnya menyingkirkan hakikat Tuhan. Saat ini mereka hanya mengamati dan sesekali datang mengunjungi kita yang penampakannya sering disebut-sebut dengan UFO (Unidentified Flaying Object) atau Alien. Kemunculan UFO yang seringkali dilaporkan di Dunia Barat (Amerika dan Eropa) juga dianggap mereka sedang mengobservasi bagian sisi kebudayaan yang paling maju seperti yang mereka lakukan di kebudayaan-kebudayaan terdahulu.

Dalam teori tersebut, orang Indonesia sekarang bukan orang keturunan Atlantis atau Mu/Lemuria melainkan suku mongolid yang berasal dari cina selatan melalui malaka dan suku negroid austro yang berasal dari Austalia. Merekalah yang akhirnya tinggal di wilayah bekas reruntuhan Atlantis.

Teori spekulatif yang lain tentang keberadaan Benua Atlantis, justru saling berseberangan satu sama lain. Dalam teori yang lain, Atlantis selalu dihubung-hubungkan dengan keberadaan UFO secara langsung. Dipercayai, oleh para pendukung keberadaan UFO, mahluk-mahluk ekstrateretial tersebut adalah manusia atlantis yang meninggalkan Bumi karena kehancuran massal. Mereka, dengan teknologi majunya, pindah ke Planet lain. Ada yang beranggapan mereka pindah ke Planet Mars, lalu pindah lagi ke Planet lain. Hal ini juga menerangkan Evolusi manusia yang berubah menjadi Alien. Dalam waktu ribuan tahun atau lebih lama lagi, Karena perkembangan teknologi yang amat pesat, kepala manusia menjadi lebih besar karena porsi otak yang mereka gunakan makin maksimal. Tubuh mereka menjadi lebih kurus karena, semakin maju teknologi, tidak ada lagi pekerjaan keras yang mereka kerjakan, mulut mereka mengecil karena konsumsi sudah lebih cepat dengan cara infus atau berbentuk pil. Mereka sesekali berkunjung ke Bumi untuk meneliti kehidupan yang telah ia tinggalkan.

Sampai saat ini, teori tentang keberadaan Atlantis tak terhitung jumlahnya dan sangat bervariasi. Seluruh teori yang berkembang dianggap masih bersifat spekulatif dan justru mendulang ribuan tanya. Tidak ada cukup bukti-bukti yang mendukung dan tidak ditemukan peninggalan sejarah yang faktuil untuk mendukung teori-teori tersebut. Hingga saat ini, Benua Atlantis tetap menjadi misteri terbesar dalam peradaban manusia yang tidak terkuak.

Apakah misteri Atlantis berada di kepulauan Sangihe Talaud ?
Segala kemungkinan bisa saja terjadi, sebab letak geografi kepulauan Sangihe Talaud berada dibibir pasifik, sehingga bagian daratan kepulauan Sangihe Talaud yang tenggelam mempunyai kait-mengait tenggelam pulau (Benua) Atlantik. Dari hasil temuan ekspedisi kerja sama Indonesia Amerika Serikat, memungkinkan untuk diadakan ekplorasi/Observasi untuk di hubungkan bilamana ada kesesuaian bukti yang bisa mengarah ke tenggelamnya Benua Atlantis. Keberadaan kepulauan Sangihe Talaud berakar dari legenda asal usul nenek moyang etnis Sangihe Talaud yang berhubungan erat dengan putri-putri(Bidadari)dari khayangan, diantaranya perkawinan Gumansalangi dengan Putri Konda Wulaeng,Humansadulage dengan Tendensehiwu, putri Ting dengan pangeran dari khayangan melahirkan Mokodouduh, Mokodoluduh dengan Bawunia, Sese Madunde dengan Bidadari. Cerita sebagian rakyat bahwa pulau Sangihe terjadi dari airmata seorang bidadari. Nama Sangihe yaitu berasal dari Sangi, Masangi, mahunsangi, Sangitang yang kesemuanya berarti menangis.

Di kisahkan, ribuan tahun lalu, jauh sebelum peradaban manusia saat ini, terdapat sebuah peradaban maju ditanah yang subur dan makmur. Peradaban tersebut begitu terorganisir dengan tata letak bangunan yang rapih dan seni yang menawan. Negeri dengan pegunungan-pegunungan yang indah dan megah dengan teknologi yang sangat maju. Tiba-tiba saja peradaban tersebut lenyap. Dan tak berbekas. Seluruh peninggalan dan bukti sejarah seperti ditelan ke dasar bumi, terlipat dalam ceruk yang dalam, tersapu dari bumi selamanya. Bumi kembali sepi. Peradaban kembali pada titik nol.

Berdasarkan temuan tim ekspedisi hasil kerjasama indonesia dengan Amerika Serikat beberapa waktu yang lalu, telah menemukan beberapa buah gunung berapi di wilayah perairan kepulauan Sangihe Talaud. Diantara temuan tersebut terdapat sebuah gunung berapi raksasa di dasar laut di sekitar pulau kawio/kawaruso.Gunung berapi yang masih aktif menyerburkan butiran emas, satu kemungkinan merupakan penyebab tenggelamnya sebagian daratan pulau Sangihe, karena menurut cerita rakyat Sangihe Talaud bahwa pulau Sangir Besar (Tampunglawo) dahulukala daratannya bersambung dengan pulau-pulau tersebut. Juga ditemukannya ikan-ikan purba yang hidup diperairan Sangihe Talaud diperkirakan sejak 150.000 sampai 200.000 tahun yang lalu.

Temuan adanya lokasi 'hutan purba' di seputaran kawasan lindung Sahanderumang, Kampung Lelipang Kecamatan Tamako Kabupaten Sangihe, oleh wisatawan asing asal Jer-man 27 Desember 2007 lalu, seakan semakin diperjelas dengan ditemukannya tulang belulang berukuran raksasa oleh warga Kampung Pinta-reng, Kecamatan Tabukan Selatan Tenggara (Tabselteng).
Konon tulang belulang yang diyakini merupakan fosil dari manusia purba tersebut, dite-mukan warga pada tahun 1997 silam.

"Kalau dikaitkan, ada kebe-narannya juga bila di kawas-an lindung Sahanderumang ada spot hutan purba. Karena tahun 1997 lalu warga pernah menemukan tulang berukur-an raksasa di Sungai yang berbau busuk. Sungai Busu ini muaranya dari Sahanderumang,"

Tulang belulang yang tersisa tujuh bagian tersebut memi-liki bobot rata-rata di atas lima kilogram (kg). "Ini de pe tulang kaki, de pe tulang bagian belakang deng gigi," ini merupakan sisa yang dibawah oleh warga asing yang datang ambil lalu dibawa pergi. Pada tahun 1997 pernah ditemukan warga yang mendulang emas di Kali Busu. Saat penggalian mencapai kedalaman lima meter, warga menemukan benda yang awalnya dikira bebatuan yang mengandung mineral emas. Tapi ternyata itu adalah tulang. Penemuan tersebut berupa tulang betis kaki dan tulang belakang manusia raksasa zaman da-hulu. Ada juga giginya ditemukan taring berukuran satu meter lebih yang masih utuh diambil orang Prancis dan Jerman.

Menurut Dr.Santoso Soegondho, Pada saat terjadi peng-esan (zaman glacial) di muka bumi pada masa Plestosin, pernah terjadi migrasi fauna dari daratan Asia ke Selatan melalui Filipina dan Sulawesi Utara. Oleh sebab itu di Filipina dan di Sulawesi Utara terdapat peninggalan fosil-fosil binatang purba seperti gajah purba (stegodon) dan fosil hewan lainnya. Di Desa Pintareng di Tabukan Selatan di Pulau Sangihe, telah ditemukan adanya fosil-fosil gading dan geraham gajah purba tersebut. Menurut para ahli dari Museum Geologi Bandung dan dari Pusat penelitian Arkeologi Nasional Jakarta, fosil-fosil tersebut dinyatakan sebagai bagian dari fosil Stegodon yang pernah hidup di Kepulauan Nusantara pada masa Plestosin sekitar 2 juta tahun lalu. Gajah purba ini selain di Pintareng telah ditemukan fosil-fosilnya di Sangiran, di Kabupaten Sragen Jawa Tengah, di Lembah Cabenge di Sulawesi Selatan dan di Lembah Besoa di Sulawesi Tengah. Stegodon di dunia diperkirakan pernah hidup sejaman dengan binatang purba lainnya. Di Indonesia stegodon hidup dengan binatang-binatang purba lainnya seperti Rinocheros (badak purba) serta kerbau purba dan lain sebagainya. Dengan temuan fosil gajah purba di Pintareng, Tabukan Selatan Sangihe tersebut, maka sebenarnya diketahui pada masa plestosin sekitar 2.5 juta tahun yang lalu, iklim di bumi mengalami perobahan total yaitu penurunan suhu yang sangat drastis. Masa itu dikenal dengan zaman glacial (zaman es). Fenomena alam ini erat hubungannya dengan perubahan dari parameter astronomi mengenai posisi bumi terhadap matahari. Kejadian ini berlangsung secara periodik, yang telah mengakibatkan berubahnya jumlah total dan pembagian energy dari matahari yang diterima bumi. Selama apa yang disebut zaman es (zaman glasial) itu berlangsung, air di bumi terkumpul dalam bentuk es di daerah-daerah yang bergaris lintang tinggi. Hal ini berarti kandungan air di samudra menjadi berkurang, akibatnya muka air laut menjadi turun. Oleh sebab itu tidak heran kalau gajah purba dari jenis Stegodon ditemukan di Filipina dan beberapa daerah di Indonesia seperti Pintareng, Besoa, Cabenge, Flores dan Sangiran. Para ahli mempprediksi bahwa Sulawesi Utara menjadi pintu gerbang di dalam migrasi binatang purba ini.

Sejarah peradaban manusia di daerah ini cukup panjang dan menarik. Daerah ini pada jaman es melanda dunia pada masa plestosin jutaan tahun yang lalu, merupakan bagian daratan yang menghubungkan pulau Sulawesi dengan daratan Filipina bahkan daratan Asia. Setelah jaman es berakhir, Sulawesi Utara menjadi daratan yang membentuk jazirah Pulau Sulawesi dan kepulauan di bagian Utaranya.
Selain daratan yang sebagian besar merupakan dataran tinggi, Sulawesi Utara juga terdiri dari pulau-pulau yang jumlahnya cukup banyak, lebih dari 150 pulau. Daerah ini mempunyai karakter alam yang khas yaitu dataran tinggi lebih luas dari dataran rendahnya, memiliki banyak gunung berapi dan sebagian besar masih aktif termasuk gunung api bawah laut, memiliki banyak gugusan karang yang membentuk pulau-pulau, selain itu kerak bumi daerah ini berdekatan bahkan sebagian berada tepat di daerah terjadinya proses subduksi (perbenturan) lempeng-lempeng (plates) tektonik antara lempeng Pasifik-Filipina-Australia dengan lempeng Sangihe dan Halmahera. Bahkan terletak dekat dengan pertemuan lempeng-lempeng dunia seperti lempeng Pasifik, Eurasia dan Australia.

Posisi di daerah subduksi inilah yang menyebabkan kemunculan gunung-gunung berapi dan sering terjadinya berbagai gempa bumi di daerah ini sejak jaman dahulu kala. Gunung-gunung berapi Sulawesi, Halmahera dan Sangihe, adalah merupakan hasil zona subduksi lempengan Sangihe dan Halmahera.
Sebagian besar lempengan Maluku telah tertindih (tersubduksi) oleh zona subduksi Halmahera di bagian Timur dan oleh zona subduksi Sangihe di bagian Barat. Gunung-gunung berapi di Sulawesi, Sangihe dan Halmahera diberi pasokan magma yang dibangkitkan di mantle asthenospherik yang termodifikasi oleh fluida yang dihasilkan dari lempengan Maluku yang tertindih. Dalam beberapa juta tahun semua lempengan Laut Maluku akan tersubduksi dan lempengan Sangihe serta Halmahera yang sudah saling menindih pada ujung-ujung lempengannya akan bertabrakan hebat

Berdasarkan penelitian arkeologi diketahui bahwa tanda-tanda kehidupan manusia di Sangihe Talaud sudah berlangsung sejak 30.000 tahun yang lalu seperti yang ditemukan buktinya di gua Liang Sarru di Pulau Salibabu. Migrasi dari wilayah Asia ke Pasifik melalui route ini ditengarai dengan menyebarnya kebudayaan Austronesia di pulau-pulau di sekitar Pasifik, seperti ditunjukkan oleh penggunaan bahasa-bahasa yang tergolong ke dalam rumpun bahasa Austronesia, serta ditemukannya sisa-sisa budaya yang mengenal pemakaian alat-alat batu muda (neolitik) yang berupa beliung batu persegi di Liang Tuo Mane’e di Kabupaten Talaud.Kemudian ditemukan pula sisa-sisa budaya masa logam tua (paleometalik) yang mengenal penggunaan tempayan kubur seperti yang ditemukan di Liang Buiduane di Talaud.(Bellwood, 1978). Menurut para pakar diperkirakan menjadi daerah kunci yang dapat memberi jawaban atas permasalahan daerah asal (home land) dari suku bangsa yang berbahasa Austronesia yang pada masa kemudian mendiami daerah-daerah antara Madagaskar di bagian barat sampai dengan Easter Island di kepulauan Pasifik di bagian timur, serta Formosa Island di bagian Utara (Solheim, 1966; Shuttler, 1975, Bellwood, 2001).Budaya yang dibawa oleh suku bangsa penutur bahasa Austronesia meninggalkan warisan-warisan budaya yang terdiri dari alat-alat batu neolitik beliung persegi. Alat-alat batu neolitik telah ditemukan di gua-gua di daerah Sangihe Talaud.

Khusus untuk cerita rakyat Sangihe Talaud masih banyak lagi merupakan sebuah misteri yang sampai saat ini belum terungkap kebenarannya, diantaranya adalah :
Manusia Ampuang yang pusat kerajaan dibawah bumi konon segala sesuatu terbuat dari kristal, emas dan permata. Cerita Mandariki(manusia kerdil), manusia Apapuhang yang hidup diatas pohon. serta cerita manusia Ansuang (raksasa)/Menghilangnya Kerajaan Mangsohowang atau kerajaan para manusia raksasa,cerita kabanasa yang mencuri air tuak, cerita tentang Makaampo yang lapar daging dan haus darah manusia keturunan raksasa, Laksamana laut Hengkeng‟u naung meliku nusa kumina ateng bahani dari kerajaan Siau bukti pedang dan batu asah ada di Kawahang, cerita tentang Ambala pemberani dari Tamako dengan pedang sakti sampai batu terbelah, Batu Makaampo yang terletak diatas lereng puncak gunung Awu,cerita upung wuala.

Cerita/Hikayat/Legenda, tersebut diatas tergantung dari sudut mana kita melihat serta menyikapinya, semua tergantung dari pribadi kita masing-masing. Kita sebagai umat yang percaya kepada Tuhan menyerahkan semua kepada Sang Khalik, kita manusia sebagai mahkluk hanya beriktiar tetapi rencana dan kehendak Tuhan yang berlaku. Semua itu merupakan sebuah misteri bagi kita hanya Tuhan yang mengetahuinya.

Selasa, 01 Januari 2008

LAGU NUSA LAWO

DARLUASE

Daluase Seng Nahempaliu
Nenaungang Pirang Taung Nariu
Nehengke Kaliomaneng Su Mawu
Batu Timuhu Kere Karakiku
Ruatane Tulung Satia
Ku Abe Gagholokang’u
U’ Waling Liaghang gatinu
Refff. Ini Nipensa’u Ringang Gaghionu
Tahendunge Kebi Apang Hapi’u
Pempebanuako Su Wongkong Lumenehe
Su Tadetene Takahalaweng
O, Su Weda’u Lempi’u Anging O, Su Wanala Eng Pedarame
Kamageng Alingang Mengkai Tumuwo
Kamageng Engsokang Mengkai Tumendang
Menaharumiki Mekila Mededarlinding Sarang Binawa
Ku Simarang Kere Kakerong’u Wituing Kadademahe (Balik Reff)
O, Mawuku Mambeng Metulung Sirung Sengkasirung.


MAGENG SENG MEMEDOA

Mageng seng memedoa
Injil pelo sumona
Abe ghanghang mawihua
Oh Yesus atohema
Reff. Asalu panitidolong
Pakapia wehongangneng
Bawahasi kai rolong
Pundaleng kaliomaneng


O, MAWU MALONDO

Oh Mawu Malondo
Ruata Iamang
ElangU Mamogho
Makiambang
Ref. Tulung Ampunge Mawu
Haghieng Dalawangku
Dan Durhakaku
Sutengo-Nu


O, MAWU RUATA

O, Mawu Ruata
Talentu ko ia
Napene u rosa
Rosa Masaria

Tentiro ko sia
Daleng mapia
Penata Elang'U
Su raralengangku


O' MAWU RENDINGANENG

Oh Mawu Rendinganeng
I kami manga elang
Su tempo kadentane
Oh Mawu kaselaheng

Bae darodo matelang
Tembonang kawanua
Aha ko su raleng'U
Sui kekapulu-Nu


ELLO HEBI

Ello Hebi Mang Susah Sangitang
Metahendung Si Kakendage
Elo Hebi Mang Susah Sangitang
Metahendung Si Gaghurangku
Ref. Mang Susah Sangitang
Taka Sasaliwuhang
Susangi Su Naung
Apang Elo Hebi


BONGKON AWU

Bongkong Awu makadalunsangi
Kakelaeng bou marau
Ore mambeng maka tompe elo
Makakendung suralung u naung
Ref. Su soang tau su wanua marau
Nusalawo katahendungang
Seng nitentang marau
Anau sembau
Inang i amang takawulengang


DALAPIA BONGKONE

Dala pia bongkone mahoro
Lighareng sarung pemunakeng
Nikakoko i Ghenggonalangi
Tahanusa eng Sangihe
Reef. Banuaku i kekendaghe
Tamailang su ralung u naung
Maning maliku dunia
Sau kasule oh kapia
Maning ia su wanuang tau
Niwembang su tampa marau
Sangihe tamailang su naung
Elo hebi me’ngeng kau


HOMBANGU PEBIAHENG

Hombangu Pebiaheng
Sini su Dunia
Haghingu Kasasusah
Su Taumata
Ref.Oh Kasiang Pirua
Ana Kasisi
Nitentang'u Gaghurang
Makasasangi


PIRUA ANA SAMURI

Pirua ana samuri
Nihiking su susane
Hombange Nedalahaging
Sutaung pinahambangeng
Kai kere karorongang
Kentaeng pekariomanengang
Sirunge ko sentinia
Darengko su dunia


SANGIHE IKEKENDAGE

Sangihe ikekendaghe sarang papateku
Sidutu makaluase darungu naungku
Maning pia dade dala limembong bantuge
Takere soang sangihe maning kurang damene
Reff. Soa kinariadiangku sangihe 2 x
Ene-ene naungku taku tahendungang
Soa kinariadiangku Sangihe


KASASUSA SU NAUNG

Kasasusah su Naung
Metahendung sikau
Hapi ikekendaghe
Medating ituruhe
Ref. Kasiang oh pirua
Tahendunge we ia
Maning seng manentang marau
Tamawuhi sunaung
Maning su soang perasingang
Dekeng kere medingang


ELLOKU KERE PANSUHANG

“Elloku kere pansuhang nelehe supipiku
Bawelo sutaturuhang metahendung hapiku
Oh hapiku masatia seng nanentang keng ia
oh kasiang oh pirua ia ini bawelo sutaturuhang


MAWU RUATA KAWASA

1. Mawu Ruata kawasa
Su Sorga su dunia
Sie manahimata mehiking sentinia
Sie kota bentengku ore tatalangengku
Tengade masatia mehiking sentinia.
Reef : Mawu Ruata tulung elangU
Rendinganeng’U tulumang’U
Kuate iman dan harape
Geli’e naung matatape
2. Sulimanu o, Mawu iserakang susahku
Sutentanudu Mawu badan lai jiwaku
Onggoko tualag’U ringaneng tulumang’U
Su elo metatuhu ringaneng tulumang’U.
Reef : Mawu Ruata tulung elang’U
Rendinganeng’U tulumang’U
Kuate iman dan harape
Geli’e naung matatape


MAWU ELANGU TATA

Mawu elang’U tata Suraleng’U
Limaku mangumbele kunaneng’U
Kami ana’U hala mambeng tala
Lumempang dumarisi ari wala
Sutempo suwu-suwu dan belade
Ia mang tamataku u papate
Kinasiloku senang tualag’U
Timuhu pangangimang su Mawuku


DUNIA PUBIAHENGKU

1. Dunia pebiahengku
Apa e dedeakengu
Areta kalanggihange
Mawatugge tak sihinge.
Reef : Bulaeng salaka intan
Sematang mapia sumata
Areta u Sorga ene
Nengilembong kawantugange.
2. Pendolong bulude Sion
Soang kasasalamate.
Sene sarung makasilo
Makaeba salamate.
Reef : Bulaeng salaka intan
Sematang mapia sumata
Areta u Sorga ene
Nangilembong kawantugange.


MAWU RUATA MASUSI MAKAWASA

Mawu Ruata masusi makawasa
Mawu Sorga dingangu dunia
Sutengon’U tak hombang kasasusa
Tak hombang kasasusa
Daluase masaria.
Pirua ia marosa
Hinone seng mawinasa
Batu kebi susa dan kasasilaka
Mang hombang sintinia
Reef : O Mawuku Ruataku
Abe tentang elangU
Megegahagho kaliomaneng
Suleing kakendag’U


MAGENG MAKATAHENDUNG

Mageng makatahendung
Elong pebiahengku
Susah dan genggang
Su naung makasangi.
Apa sarung mariadi
Su elong samuri
Su wadang dan su jiwaku
Mambeng makatataku.
Reef : O Mawuku tulung elang’U,
Supatiku hombang kasasusa
Himombang si sia
Laing haghing dosa susentinia.
Ello hebi kepapendangeng
Nahino su watangeng
Sigesa masaria
Su wadang dan jiwa.


SUDUNIA PUBIAHENG

Sudunia pebiaheng
Ore lai kapateng
Mapapia nilegaheng
Sarung lai elakeng.
Reef : O Mawuku tentanude
Suapang kanoa dalengangku
Ari wala petatude
Tuhu kalaeningku.


O' KASIANG

Oh kasiang ia so soang tau
Napalide suwanua marau
Ene e hombangu pebiaheng
oh kasia ia napuko eng ngipi
Mageng seng bawelo
ia su taturuhang hapi tahenndunge ello sarang hebi
sumoho metiki marigha badangku pendangeng masaki
ene hombangu pebiaheng o’kasiang ia masusah sunaung.


MAKAKENDUNG SUSANGI

1. Makakendung susangi
Suralungu naungku.
Makatahendung elong
Sarung pubiahengku.
Reef : Mawu, Mawu ahako sentinia
Dalengku sudunia
Elang’U ari wala.
2. Sudunia dalora
Susah pebawiahe.
Pirua taumata
Maraung daluase.
Reef : Mawu, Mawu ahako sentinia
Dalengku sudunia
Elang’U ari wala.


TEMPO ELO WULANG TAUNG.

Tempo elo wulang taung
Naparung kere hiwu.
Nanawo kere rakalu
Mageng anging timiu.
Reef : Kebi apa su dunia
Kebi-kebi sarung matadie.
Simbau tawe mailang
Dianding salamate.


SUSAH KASARIA SUMAWUKU

1. Susah kasaria su Mawuku
Seng neliung ia bou rosaku.
Netatahang haghing papahang
Mawuku simangi su Getsemani.
Mawu mamogho makiambang
Kukairhoro su Mawu Yamang.
2. Su waleng guguta tanaputuse
Si makang Golgota malahapuse.
Mahkotane larang sesane.
Mawuku simangi su Getsemani.
Mawu mumogho makiambang
Kukairhoro su Mawu Yamang.


TAKAWULENGANG SUNAUNG.

Takawulenang sunaung
Maning bulang mutaung.
Reef : Metatentang ta’ bulone
Susah naung timumpe e
Simu e pendang su ate
Salawa makapate.


MANG TA’ APA LUASE

1. Mang ta’apa luase
Supebawiahe sudunia
Mahape hombang susa
Mang tatape.
Reef : Ketaeng su Mawu Ruata
Pedarame naung dumenta.
Mawu Yesus mangibore
Banggilu kasasalamate.
2. Adate sudunia
Dan patiku kawasa.
Tawe makaliwire
Bou susah mahape.
Reef : Ketaeng su Mawu Ruata
Pudarame naung dumenta.
Mawu Yesus mangibore
Banggilu kasasalamate.

Sabtu, 14 Juli 2007

SEJARAH SINGKAT KOTA MANADO

Pada tahun 800-san Masehi di Cotabato Mindanauw sekarang Filipina dahulu ada sebuah kerajaan suku bangsa negrito yang dipimpin oleh seorang Kulano(raja). Kerajaan ini diserang oleh suku bangsa Mongolia, akan tetapi seorang anak raja yang bernama Humansadulage beristeri Tendensehiwu berhasil meloloskan diri beserta para pengikutnya antara lain Batahasulu atau Manderesulu orang sakti kerajaan yang memeliki papehe(ikat pinggang dengan ukuran satu jengkal), lenso (saputangan), dan paporong (ikat kepala). Dengan melemparkan ikat pinggang berukuran satu jengkal kelaut yang kemudian menjelmah menjadi Dumalombang atau ular naga besar. Dumalombang membawa mereka ke Selatan lalu tiba di daerah Molibagu. Ditempat ini mereka berkabung sambil menangis selama empat puluh hari empat puluh malam. kemudian mereka berikhar menjadi suku bangsa yang baru yaitu Suku Bangsa Sangihe. Setelah masa perkabungan berakhir mereka hidup menetap dihutan yang terletak di sebuah puncak bukit lalu mendirikan sebuah kerajaan yang bernama Wowontehu/Bowontehu. Bowontehu berasal dari bahasa Sangihe yaitu Bowong artinya atas dan Kehu artinya hutan. Jadi Bowontehu adalah kerajaan yang terletak diatas hutan. Humansadulage sebagai Kulano (Datu/Raja) dan Tenden Sehiwu sebagai Boki (Permaisuri). Humassadulage dan TendenSehiwu memperanakan Budulangi. Budulangi bersiteri Putri Ting yang berasal dari khayangan. Budulangi dan Putri Ting memiliki seorang anak perempuan yang bernama Toumatiti. Toumatiti hamil dari seorang Pangeran yang datang dalam mimpinya, Maka lahirlah seorang putra diberi nama Mokodaluduh atau Mokoduludud Versi Bolmong. Mokodaluduh yang artinya Pangeran dari khayangan. Mokodaluduh menikah dengan Bania/Baunia yang keluar dari buluh tipis kuning ditemukan dihutan oleh pasangan suami istri yaitu Sanaria dan Amaria lalu dipelihara.

Pada Suatu ketika Tahun 1000-an Masehi terjadi pergolakan perang disana-sini sehingga Mokodaluduh beserta para pengikut yang setia meninggal Molibagu lalu tiba di Pasang Bentenan. Bentenan berasal dari kata Bentengang, bahasa sangir yang berarti “angkat bersama, perjuangan bersama,membawah beban berat oleh beberapa orang" di baling-baling yaitu tempat yang bernama Posolo berada disebelah timur Malesung atau Minahasa sekarang disebut Lembe berasal dari bahasa Sangir artinya sisa. Ditempat ini mereka tinggal tidak lama sebab diserang oleh Suku Mori utara teluk Tomini, Laloda dan Mangindanouw. Kemudian Mokodaludhu dan rombongan mengungsi lalu tiba di Pulisang. Pulisang berasal dari bahasa sangir yaitu kata Pelisang yang bearti terhindar dari musuh, tidak ketemu musuh. Rombongan membentuk sebuah formasi barisan pasukan berangkat menuju ke arah sebuah gunung, mereka berjalan mengintari (belitan) gunung lalu tempat itu diberi nama Gunung Lokong berarti (mengintari, mengelilingi,mengerumuni,menutupi) sekarang disebut Lokon. Mokodaluduh dan Baunia serta rombongan tinggal ditempat ini dan Baunia melahirkan seorang anak laki-laki lalu diberi nama Lokongbanua. Kemudian Mokodaluduh ingin mencari tempat seperti pasang Bentenan yaitu tempat berangkatnya perahu-perahu lalu tiba di pulau Manarauw (Manado Tua). Kata Manarou berasal dari bahasa Sangir yaitu Mararau; Marau yang artinya Jauh.

Mokodaluduh bersama rombongannya membangun kembali kerajaan Bowontehu dengan pusat pulau Manarouw dengan gelar Kulano. Di Manarouw ini Mokodoludud dan Baunia dikaruniai lagi anak yang bernama, Jayubangkai, Uringsangiang dan Sinangiang. Penduduk kerajaan ini berkembang bertambah banyak sehingga sebagian mendiami daerah bagian utara dataran pulau Sulawesi yaitu Gahenang/Mahenang nama kuno untuk Wenang berasal dari bahasa Sangir Tua yaitu artinya api yang menyala/bercahaya/bersinar(suluh, obor, api unggun). Perpindahan dilakukan dengan menggunakan perahu (Bininta), melalui tempat yang bernama Tumumpa berasal dari bahasa Sangir yang artinya turun sambil melompat,kemudian menetap di Singkil berasal dari bahasa sangir Singkile artinya pindah/menyingkir. Mereka menyebar sampai ke Pondol bahasa Sangir disebut Pondole artinya di ujung,dll. Wilayah kerajaan Manarouw sesuai memori Padtbrugge disebut menurut nama asalnya meliputi : P. Manado Tua, P. Siladeng, P. Bunaken, P. Mantehage, P. Nain, P. Talise, P. Gangga, P. Bangka dan P. Lembeh serta daerah pesisir pulau Sulawesi. .***[Sumber tulisan: Buku karya Shinzo Hayase, Domingo M. Non, dan Alex J. Ulaen yang berjudul “SILSILAS/TARSILAS (GENEALOGIES) AND HISTORICAL NARRATIVES IN SARANGGANI BAY AND DAVAO GULF REGIONS, SOUTH MINDANAO, PHILIPPINES, AND SANGIHE-TALAUD ISLANDS, NORTH SULAWESI, INDONESIA” halaman 251-252].

Dalam Buku KAKAWIN NEGARA KERTAGAMA karya Empu Prapanca 1365 disebut "UDAMAKATARAYA DAN PULAU-PULAUNYA terjemahan Mohammad Jamin 1969 yaitu kerajaan-kerajaan Sangihe (Bowontehu = Raja Mokodaluduh dan Tampungan Lawo = Raja Gumansalangi), keduanya berasal dari satu keturunan yaitu raja Cotobatu Mindano selatan negara Pilipina sekarang. Kerajaan Majapahit berlabu ditanjung Pulisang kemudian ke Manado Tua lalu ke Petta kemudian ke Talaud ditempat yang bernama Makatara atau Desa Makatara untuk dijadikan pangkalan guna menyerang Kerajaan Sulu.

Penduduk Kerajaan Bowontehu/Manarouw adalah orang sangir (Graafland, Minahasa masa lalu dan masa kini, terjemahan Joost Kulit).

Pada suatu ketika kembali Mokodaluduh memerintahkan rakyatnya membuat perahu(Bininta), setelah selesai pembuatannya maka diuji kemampuan untuk mengapung, mendayung serta berlayar dari perahu. Kapal tersebut memuat putra-putri raja yaitu Lokonbanua, Uringsangiang, Sinangiang beserta Batahalawo, Manganguwi, Bikibiki, Banea dan Tungkela. Raja Mokodaludu berpesan kepada anak-anaknya agar selama dalam pelayaran tidak boleh mengeluarkan sepatah katapun, akan tetapi Sinangiang lupa ketika melihat sebuah pulau lalu bertanya pulau apakah itu ?. Maka tiba-tiba badai mengamuk sehingga terdampar di pulau Tagulandang, Siau dan Sangir. Ditempat ini Uringsangiang dan Sinangiang menangis terus menerus sehingga tempat ini disebut Sangihe yang bersasal dari kata Sangi, Sangitang, Masangi, Mahunsangi artinya menangis. Mereka hidup dan menetap ditempat ini, Lokonbanua menikah dengan Sinangiang menetap di Ngalipaeng.

Pada tahun 1380 seorang pedagang arab bernama Sharif Makdon setelah mengunjungi ternate lalu tiba di Manarouw(Manado Tua) menyebarkan Agama Islam kemudian berangkat ke Mindanouw. Kemudian jalur ini diikuti oleh pelaut asal Portugis Pedro Alfonso pada tahun 1511, Pedro Alfonso menemukan Ternate, setelah itu armada dagang asal Portugis secara resmi mengirimkan Antonio de Abreu ke Maluku tahun 1512. Pada tahun itu juga Portugis mengirimkan tiga kapal layar ke Manarouw,(Pulau Manado Tua).

Lokon Banua II (leken artinya nama yang diangkat kembali) adalah anak dari Pahawongseke dan Ombun Duata, keturunan ke tujuh dari Raja Humansaduluge dengan Boki Tendensehiwu Kulano(raja) Bowontehu. Berlayar dari Manarouw bersama dengan pengikutnya pergi ke pulau Siauw lalu mendirikan kerajaan Karangetang pada tahun 1510.

Bangsa barat yang pertama-tama menemukan Manarouw(Manado) ialah pelayar Portugis Simao d’Abreu pada tahun 1523.

Nama Manarow dicantumkan dalam peta dunia oleh ahli peta dunia, Nicolas_Desliens‚ pada 1541. Manarouw menjadi pintu gerbang transit kawasan timur Indonesia bagi kapal-kapal dagang bangsa asing, sehingga menjadi daya tarik bagi pedagang Cina.

Pada tahun 1563 Peter Diego de Magelhaes dari Portugis berangkat dari Ternate menuju Manarouw mengajarkan pokok-pokok iman Kristen. Lalu Raja Manarouw bersama rakyatnya 1500 orang dibaptis kesemuanya adalah orang Sangir. Baptisan dilakukan di muara sungai Tondano yakni Raja Siauw(Manarauw) bernama Possuma. Raja Possuma lalu diberi nama baptis dengan nama Don Jeronimo (nama portugis) Kemudian Peter Diego de Magelhaes ke Kaidipan (pesisir utara Gorontalo) membaptis 2000 orang selama 8 hari.

Tahun 1570 Bulango dari kerajaan Bowontehu (pulau Manarouw) berlayar menuju Tagulandang. Bulango mempunyai seorang anak perempuan bernama Lohoraung mendirikan kerajaan Taghulandang atau Kerajaan Mandorokang di pulau itu bersama para pengikutnya. Bulango adalah saudara kandung dari Lokongbanua II dimana keduanya adalah keturunan ke tujuh dari raja Humansaduluge dengan Boki Tendensehiwu dari kerajaan Bowontehu.

Pada tahun 1585 Peter lain mengunjungi Manarouw ternyata iman Kristen telah lenyap kembali menjadi kafir. 1606 Spanyol merebut kembali Maluku Utara maka penyebaran agama Kristen kembali dilakukan di Ternate.

Pada tahun 1614 Spanyol memusatkan kekuatannya di Manarouw untuk menghadapi serbuan Belanda, dibangun sebuah benteng dipesisir kota itu yang berhadapan dengan pulau Manado Tua .

1619 Penduduk Manarouw sebagian besar telah beralih agama menjadi islam dan sebagian kembali ke agama suku yaitu "kepercayaan Mana"(medaroro). Oleh karena itu Misi Injil mengalihkan penyebaran ke pegunungan yaitu orang-orang dari suku pedalaman yang disebut alifuru lalu tiba Tomohon dan Tondano. Namun misi ini gagal, karena kedatangan misionaris dihubungkan dengan hasil panen. Saat itu panen tidak berhasil sehingga dikatakan dewa telah murka, para misionaris di usir. Seperti dalam surat Pater Blas Palomino tanggal 8 Juni 1619. Sebelum dia terbunuh di Minahasa pada tahun 1622, dia menulis mengenai sikap permusuhan para Walian pemimpin agama suku terhadap para Missionaris asal Spanyol. Juga Walian Kali yang menghasut kepala Negeri Kali bernama Wongkar untuk menolak dan melarang para Missionaris Spanyol untuk masuk ke pedalaman Minahasa.

Pada tahun 1623 Kerajaan Bawontehu yang berpusat di pulau Manarouw (Manado Tua) dipindakan ke Gahenang/Mahenang nama kuno Wenang berasal dari bahasa Sangir artinya api yang menyala atau bersinar (Suluh,obor), oleh karena dialek bangsa Portugis, Spanyol dan Belanda mereka mengucapkan Wenang atau Benang demikian juga dengan Manarouw disebut Manado. Kemudian Bowontehu/Wowontehu berubah menjadi Kerajaan Manarouw dengan raja bernama Laloda Daloda Mokoagow pada kurun waktu tahun 1644-1674. Penduduk kerajaan ini adalah orang sangihe (Graafland, Minahasa masa lalu dan masa kini, terjemahan Joost Kulit). Raja Loloda Daloda Mokoagow ini adalah anak dari Raja Tadohe. Sedangkan Tadohe sendiri adalah cucu dari Raja Siauw yang bernama Possuma dan cicit dari raja Tabukan(Rimpulaeng) Don Francesco Macaapo Juda I. Kerajaan Manarouw adalah sebagai kerajaan terjauh dari wilayah toritorial kerajaan Sangihe. Setelah Raja Laloda Daloda Mokoagow kemudian menjadi raja adalah Donangbala yang memiliki pedang sakti.

Suku Bantik bukan penduduk pertama yang mendiami Manarow menurut cerita Pada Tahun 1654 Salah satu kerajaan di Sangir yakni kerajaan Malingaheng Kendahe yang dipimpin oleh Raja Sahmensi Arang (Syam Syach Alam)mempunyai seorang anak bernama Putri Bulaeng Tanding. Kerajaan ini dengan wilayah bagian barat pulau sangihe,pulau Kaluwurang, Maluku Utara bahkan hingga sampai ke Mindano Selatan. Kerajaan ini tenggelam oleh karena peritiwa Dimpuluse (air jatuh dari langit)mereka terdampar di tempat yang bernama Panimbuhing.

Bukti peristiwa ini adalah Tanjung Maselihe di dalam terkubur kursi emas dan makota raja konon katanya di jaga oleh ikan hiu. Dari peristiwa tersebut sebagian selamat termasuk seorang yang bernama Bantik. Kemudian mereka mengangkat Bantik sebagai pemimpin lalu berihkrar menjadi satu suku yang baru yaitu Suku Bantik, dengan catatan mereka tidak boleh hidup bersama dalam satu wilayah, agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Maka diatur kelompok-kelopok berlayar dengan perahu menuju ke Mindanao,ke Beo, ke kema, ke Belang,ke Manaraw, Leok-Buol sedangkan Bantik sendiri pergi ke Mongondow. Bahasa suku Bantik, menurut Ernst Kausen 2005, termasuk dalam AUSTRONESISCH,MALAYO-POLYNESISCH[1123, † 18; 295.3 Mio] WEST-MALAYO-POLYNESISCH
PHILIPPINEN[6, † 0; 600 Tsd] kelompok Sangir (280 T)(D Tahulangdan, Lembeh, Siau, Karikitang, Tamako,Manganitu, Tahuna, Kandar, Tabukang, Sangil)Talaud (60 T)(D Kaburuang, Lirang, Karakelong, Beo, Awit, Dapalan,Arangka'a, Essang, Miangas)Ratahan (30 T), (D Ratahan, Bentenan, Pasan), Bantik (10 T),Tondano (100 T) (D Remboken, Ka'kas),Tonsea (90 T) (D Kalabat-Atas, Maumbi, Airmadidi, Likupang,Kauditan)Jadi Etnis Bantik merupakan anak suku Sangir Talaud.

Dalam surat Pater Juan Yranzo yag ditulis di Manila tahun 1645 menyebutkan tentang pengusiran Spanyol dari tanah Minahasa pada tanggal 10 Agustus 1644. Pengusiran tersebut mengakibatkan terbunuhnya Pater Lorenzo Garalda. Para Walian Minahasa menghasut masyarakat untuk membunuh semua Missionaris Spanyol. Rencana para walian bocor hingga para Missionaris Spanyol sempat mengungsi ke tepi pantai dan berperahu ke Siauw.

Tahun 1655 Pembangunan Benteng ‘De_Nederlandsche_Vastigheit‚’ dari kayu-kayu balok sempat menjadi sengketa sengit antara Spanyol dengan Belanda. Kos berhasil meyakinkan pemerintahannya di Batavia bahwa pembangunan benteng sangat penting untuk mempertahankan posisi Belanda di Laut Sulawesi. Dengan menguasai Laut Sulawesi akan mengamankan posisi Belanda di Maluku dari Spanyol. Setelah memperoleh dukungan sepenuhnya dari Batavia, Awal Tahun 1661 Kos dari Ternate berlayar menuju Manarouw disertai dua kapal perang Belanda, Molucco dan Diamant. Kekuatan ini mengalahkan Spanyol di Manarow. Tahun 1673 Belanda memapankan pengaruhnya di Manarouw dan merubah benteng semula dengan bangunan permanen dari beton. Lalu Benteng ini diberi nama baru, ‘Ford Amsterdam‚’ dan diresmikan oleh Gubernur VOC dari Ternate. Cornelis Francx‚ pada 14 Juli 1673 (Benteng terletak dikota Manado dibongkar oleh Walikota Manado pada 1949 - 1950).

Tahun 1675 Pendeta J. Montanus mendapati bahwa jemaat-jemaat di Manado sudah sangat lemah. Tahun 1677 VOC menetapkan Pendeta Zacharias Cacheing di Manado. Sampai tahun 1700 tidak banyak lagi pendeta yang mau datang ke Indonesia. Kekristenan pada masa VOC terjadi bukan karena keimanan tetapi karena tekanan politik. (Prof.Dr.I.H.Enklaar.Sejarah gereja ringkas,81,1966)

Pada tahun 1677 Compeni mengadakan perjanjian dengan Raja Siau dengan persaratan kesepakatan bahwa Raja serta rakyat harus beralih agama dari Kristen Katolik menjadi Protestan.

Gubernur VOC Maluku, Robertus Padtbrugge ketika berada di Manado tahun 1677 mengatakan bahwa orang Sangir Tualah adalah penduduk pribumi yang pertama di Manado, yakni sekitar tahun 1332.

Manado bukan Minahasa,(sejarah Minahasa-Kontrak 19 Januari 1679 hal 61). Minahasa itu Malesung, disebut oleh orang Sangir Tau Kaporo (orang yang hidup digunung), sehingga kini orang Minahasa disebut orang gunung. Manarauw adalah wilayah toritorial dari kerajaan Sangihe-Talaud.

Perserikatan Pekabaran Injil Belanda Van der Kamp mendirikan NZG Tahun 1797. Tahun 1817 Pendeta Josep Kam berkunjung ke Minahasa. Tahun 1819 Lenting berkunjung ke Minahasa.Pendeta Josep Kam dan Ds. Lenting mendapati orang Kristen tidak ada pelayanan lagi,lalu mereka melaporkan keadaan itu pada NZG di Belanda. Pada tahun 1822 atas laporan diatas maka NZG mengirim 2 orang berkebangsaan Swiss, L.Lamers di Kema ( meninggal 1824 di Kema ) W. Muller di Manado (meninggal 1827 di Manado) Mereka meninggal karena penyakit Typus.Dalam pelayanan, mereka mengalamai banyak hambatan dan tantangan terutama dari kalangan turunan Eropa.Tahun 1827 pelayanan manado diganti oleh Ds. G. J. Helendoorn. 4 tahun kemudian tahun 1831 dikirim lagi 2 Orang pelayan yaitu : Johann Friedrich Riedel dan Johann Gottlieb Schwars. Tahun 1855, NZG mengutus S.D. van der Velde van Capellen dari Minahasa ke Sangihe dan membaptis 5033 orang.Ketika itu S.D. van der Velde van Capellen sedang bertugas di Tareran,Minahasa.

Menurut Catatan Robertus Padburgge,1867, kerajaan Manarouw hancur akibat perang berkepanjangan dengan kerajaan Bolaang. Perang ini menyebabkan penduduk berserak sebagian ke pulau Sangir, Likupang dan Bitung. Menurut penuturan tua-tua bahwa sebagian orang sangir meninggalkan Manarouw akibat kekurangan makanan karena diserang oleh gerombolan kera serta adanya wabah penyakit. Penduduk yang kuat pergi ke Sangir, Likupang dan Bitung sedangkan yang sakit-sakitan mereka tetap tinggal menetap di Manarouw. Manarauw(Manado)wilayah kerajaan terjauh dari kerajaan Sangihe sejak purbakala di Molibagu,Ratahan,Bentenan,Lembe,pulisang,Lokon dan Manado Tua, Gahenang/Mahenang (wenang).

Kerajaan ini disebut dalam Kakawin Negara Kertagama oleh Empu Prapanca pada tahun 1365 dengan sebutan Uda Makataraya dan pulau-pulaunya (terjemahan Moh. Yamin 1969). Menurut para ahli khususnya penguuasaan Udamakataraya bahkan Indonesia Timur, baru merupakan wacana dari Pati Gajah Mada, dengan alasan tidak ada bukti peninggalan berupa candi, prasasti,ataupun pajak/upeti seperti ditemukan pada wilayah kekuasaan lainnya. Penguasaan Majapahit itu kemungkinannya hanya dalam penguasaan wilayah perdagangan (Berniaga).

Menurut penuturan orang tua Sangihe bahwa dahulukala Kerajaan Majapahit pernah berlabu di tanjung Pulisang, kemudian di ijinkan masuk ke Manado Tua lalu berangkat menuju pelabuhan Petta Tabukan. Dengan seizin raja Gumansalangi kerajaan Tampungang Lawo,maka kerajaan Majapahit menjadikan Makatara di pulau Karakelang (Talaud) sebagai pangkalan armada perang untuk menyerang kerajaan Solok atau Sulu atau Sulug dalam bahasa sangir disebut Suluge sekarang masuk wilayah Negara Philipina.

Raja Siauw XIV. Raja Jacob Ponto 1850 – 1882
Putra Raja Bolang Itang Daud Ponto saudara dari Raja Nicolaus Ponto Tawere. Pemerintahan colonial melihat bahwa Raja Jacob Ponto adalah seorang yang berbahaya dimata pemerintah Belanda, dan menjadi duri dalam tubuh kolonial maka pada tahun 1882 beliau dibuang keluar daerahnya ke pesisir utara Jawa Barat ke kota Cirebon. Beliau menetap di Cirebon sampai wafat pada tahun 1890, dan dimakamkan di selatan kota Cirebon bernama Sangkanurip 12 km dari kota Cirebon. Bagi generasi tua di kota Cirebon beliau dikenal dengan sebutan Raja Menado.

Manado sebagai pusat kedudukan residen sehingga VOC ingin menguasainya, maka sejak itu kekuasaan para-raja dikurangi. Perdagangan dengan VOC di Sulawesi Utara ditandatangani di Manado oleh Raja Siau (ada di Arsip Sulut). Wilayah-wilayah khususnya Manado dan sekitarnya terakhir di serahkan oleh Raja Siau ke XVII bernama A.J.Mohede pada tahun 1908-1912 kepada asisten residen. Wilayah ini terpisah dari sejarah orang Sangir-Talaud oleh karena penjajah Belanda dan setelah Pada tahun 1951 dimana Manado menjadi Daerah Bagian Kota dari Minahasa sesuai Surat Keputusan Gubernur Sulawesi tanggal 3 Mei 1951 Nomor 223, tapi hingga kini penduduk terbanyak di Kota Manado berasal dari Etnis Sangihe Talaud.